RAGAM ASESMEN AUTENTIK DALAM KURIKULUM MERDEKA PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Nando Rumahorbo
Email: gemlit01@gmail.com
ABSTRACT
This research aims to analyze the type of assessment used in learning Indonesian in independent learning. The research method used is qualitative with the type of library research. The research results explain that authentic assessment is also called alternative assessment. Authentic assessment no longer uses traditional assessment formats (multiple-choice, matching, true-false, and paper and pencil tests), but uses a format that allows students to complete a task or demonstrate performance in solving a problem. In essence, an assessment is said to be authentic if it involves students in real life problems. Authentic assignments allow students to apply what they have learned and make connections between the material taught at school and the life they experience. The most prominent thing about authentic assessment is that the focus of the assessment is not just to test the knowledge that has been gained, but the assessment process becomes part of the learning process. Assessments that can be used in learning Indonesian are performance-based, project-based, portfolio-based and written assessments
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis asesmen yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dalam merdeka belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian menjelaskan bahwa penilaian autentik juga disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian autentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Intinya, sebuah asesmen dikatakan otentik jika melibatkan siswa dalam permasalahan kehidupan nyata. Tugas yang otentik memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan dapat menghubungkan antara materi yang diajarkan di sekolah dengan kehidupan yang mereka alami. Hal yang paling menonjol dari authentic assessment adalah fokus dari penilaian yang tidak hanya sekedar untuk menguji pengetahuan yang sudah didapat, tetapi proses penilaian menjadi bagian dari proses pembelajaran. Penilaian yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah penilaian berbasis kinerja, berbasis proyek, berbasis portofolio dan berbasis penilaiaan tertulis
Kata kunci: Asesmen, Bahasa, Kurikulum Merdeka Belajar
PENDAHULUAN
Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya yang dilakukan untuk memperoleh sejumlah informasi mengenai perkembangan siswa selama kegiatan pembelajaran sekaligus sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru untuk mengetahui dan memperbaiki proses maupun hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Farida (2017:2) yang mengungkapkan bahwa penilaian adalah proses yang dilakukan guru untuk mendapatkan informasi tentang kinerja siswa. Sehingga pelaksanaan penilaian di sekolah merupakan bagian dari proses pembelajaran yakni refleksi pemahaman terhadap perkembangan atau kemajuan siswa secara individual. Pelaksanaan penilaian di sekolah dapat meliputi kegiatan mengamati, mengumpulkan, memberi skor/penilaian, mendeskripsikan dan menginterpretasi informasi mengenai proses pembelajaran.
Penilaian autentik (authentic assessment) adalah pengukuran yang atas hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap (afektif), keterampilan (psikomotorik) dan pengetahuan (kognitif). Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Menurut Permendikbud No.66 Tahun 2013 tentang standar penilaian, menyebutkan bahwa penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai, mulai dari proses hingga keluaran (output) pembelajaran. Maka, secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekalipun. Dalam penerapan penilaian autentik untuk mengetahui prestasi belajar peserta didik, Guru harus sudah menggunakan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah.
Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum merdeka. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring dan lain-lain. Penilaian autentik cenderung terpusat pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, yang memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih nyata.
Kurikulum merdeka mengamanatkan bahwa penilaian autentik terdiri dari berbagai teknik penilaian. Pertama, pengukuran langsung keterampilan peserta didik yang berhubungan dengan hasil jangka panjang pendidikan seperti kesuksesan di tempat kerja. Kedua, penilaian atas tugas-tugas yang memerlukan keterlibatan yang luas dan kinerja yang kompleks. Ketiga, analisis proses yang digunakan untuk menghasilkan respon peserta didik atas perolehan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang ada.
Dalam pembelajaran autentik seperti yang diamanatkan kurikulum merdeka, peserta didik diminta untuk mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik, memahami aneka fenomena dan gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang ada diluar sekolah. Guru dan peserta didik memiliki tenggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang ingin mereka pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel dan bertanggung jawab untuk tetap pada tugas.
Tujuan dari asesmen kurikulum merdeka adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Dengan memberikan siswa kesempatan untuk berpikir secara mandiri dan memecahkan masalah, asesmen kurikulum merdeka membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berpikir kritis dan kreatif. Selain itu, asesmen kurikulum merdeka juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dengan menilai kemajuan siswa secara menyeluruh, guru dapat mengidentifikasi area di mana siswa perlu lebih banyak bantuan dan memberikan bantuan yang tepat. pengembangan keterampilan dan kemampuan siswa, serta siswa juga dapat mengembangkan rasa percaya diri. Siswa yang terbiasa dinilai hanya berdasarkan hasil akhir sering merasa tertekan dan cemas saat ujian atau penilaian akhir.
Dengan asesmen kurikulum merdeka, siswa diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperbaiki keterampilan mereka seiring waktu. Hal ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan rasa percaya diri siswa dalam kemampuan mereka untuk belajar dan tumbuh. Selain itu, asesmen kurikulum merdeka juga membantu guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran.
Dalam konsep asesmen tradisional, guru seringkali hanya mengevaluasi kemampuan siswa berdasarkan hasil akhir ujian atau penilaian akhir lainnya. Namun, dengan asesmen kurikulum merdeka, guru dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa secara lebih menyeluruh. Ini memberikan kesempatan bagi guru untuk menyediakan bantuan yang tepat dan membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka.
Asesmen kurikulum merdeka juga membantu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dalam konsep asesmen tradisional, siswa sering merasa bosan dan tidak termotivasi oleh pengajaran yang hanya berfokus pada nilai akhir. Namun, dengan asesmen kurikulum merdeka, siswa diberi kesempatan untuk memainkan peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri. Hal ini dapat membantu meningkatkan minat siswa dan memotivasi mereka untuk terus belajar dan tumbuh.
Meskipun asesmen kurikulum merdeka memiliki banyak manfaat, konsep ini juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya keseragaman dalam penilaian. Karena asesmen kurikulum merdeka melibatkan berbagai bentuk penilaian, seringkali sulit untuk memastikan bahwa semua siswa dinilai secara adil dan sesuai. Untuk mengatasi tantangan ini, penting bagi guru untuk menggunakan pedoman penilaian yang jelas dan memberikan umpan balik yang konsisten.
LANDASAN TEORI
Menurut Azzim & Khan dalam (Aji: 2016), penilaian merupakan kegiatan konvensional yang dilakukan di sekolah. Penilaian merupakan proses yang membantu mengembangkan pembelajaran siswa. Penilian menyediakan kesempatan bagi guru untuk meninjau pengajaran mereka sendiri untuk meningkatkan pembelajaran siswa.
Menurut Gronlund dalam Umami (2018: 224), penilaian adalah suatu proses yang sistematis dari pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi atau data untuk menentukan sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian, penjaminan, dan penatapan kualitas (nilai dan arti) pembelajaran terhadap berbagai komponen pembelajaran berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Suparman (2016) mengungkapkan tujuan utama dalam penilaian siswa adalah untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Berikut merupakan panduan sebagai kerangka umum untuk menggunakan penilaian siswa yang efektif: (1) penilaian yang efektif memerlukan konsepsi yang jelas tentang semua hasil yang dimaksudkan, (2) penilaian yang efektif memerlukan bahwa beraneka macam prosedur penilaian yang digunakan, (3) penilaian yang efektif memerlukan bahwa relevansi prosedur pengajaran harus dipertimbangkan, (4) penilaian yang efektif memerlukan sampel yang cukup dari performa siswa, (5) penilaian yang efektif memerlukan prosedur yang adil untuk setiap siswa, (6) penilaian yang efektif memerlukan spesifikasi kriteria untuk menilai performa yang berhasil, (7) penilaian yang efektif memerlukan umpan balik (feedback) bagi siswa yang menekankan kehebatan performanya dan kelemahan-kelemahan yang harus dikoreksinya, (8) penilaian yang efektif harus didukung oleh penyekoran serta sistem pelaporan yang komprehensif.
Asesmen kurikulum merdeka merupakan konsep yang penting dan inovatif dalam dunia pendidikan. Dengan menekankan pada pengembangan keterampilan dan kemampuan siswa, asesmen kurikulum merdeka membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam kehidupan. Supa’at (2017), asesmen autentik adalah suatu proses penilaian yang melibatkan berbagai pengukuran berupa produk dan kinerja yang mencerminkan prestasi, kompetensi, motivasi, dan sikap peserta didik pada pembelajaran dikelas.
Kunandar (2013:98) penilaian autentik adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai siswa yang menekankan pada hal-hal yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian. Hasil penilaian auntentik ini dapat digunakan guru dalam merencanakan program perbaikan dan pengayaan. Selain itu, penilaiaan autentik juga membantu guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran dan memotivasi siswa untuk terus belajar dan tumbuh. Meskipun tantangan tetap ada, penggunaan penilaiaan dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan membantu siswa mencapai potensi mereka yang sebenarnya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Penelitian kepustakaan adalah kegiatan penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti buku referensi, hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, artikel, catatan, serta berbagai jurnal yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kegiatan dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode/teknik tertentu guna mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi (Sari, 2021). Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang lebih menekankan pada deksripsi holistic (Fadli, 2021)
PEMBAHASAN
Penilaian autentik akan bermakna bagi guru untuk menentukan cara-cara terbaik agar semua siswa dapat mencapai hasil akhir, meski dengan satuan waktu yang berbeda. Konstruksi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dicapai melalui penyelesaian tugas di mana peserta didik telah memainkan peran aktif dan kreatif.
Dalam pembelajaran autentik seperti yang diamanatkan kurikulum merdeka, peserta didik diminta untuk mengumpulkan informasi dengan pendekatan saintifik, memahami aneka fenomena dan gejala dan hubungannya satu sama lain secara mendalam, serta mengaitkan apa yang dipelajari dengan dunia nyata yang ada diluar sekolah. Guru dan peserta didik memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Peserta didik pun tahu apa yang ingin mereka pelajari, memiliki parameter waktu yang fleksibel dan bertanggung jawab untuk tetap pada tugas.
Penilaian autentik pun mendorong peserta didik mengkonstruksi, mengorganisasikan, menganalisis, mensintesis, menafsirkan, menjelaskan, dan mengevaluasi informasi untuk kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan baru.
Pada pembelajaran autentik, Guru harus menjadi Guru autentik. Peran guru bukan hanya pada proses pembelajaran, melainkan juga pada penilaian. Untuk bisa melaksanakan pembelajaran autentik, Guru harus memenuhi kriteria tertentu: Mengetahui bagaimana menilai kekuatan dan kelemahan peserta didik serta desain pembelajaran. Mengetahui bagaimana cara membimbing peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan mereka sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan dan menyediakan sumber daya memadai bagi peserta didik untuk melakukan akuisisi pengetahuan. Menjadi pengasuh proses pembelajaran, melihat informasi baru, dan mengasimilasikan pemahaman peserta didik. Menjadi kreatif tentang bagaimana proses belajar peserta didik dapat diperluas dengan menimba pengalaman dari luar tembok sekolah.
Jenis-jenis Penilaian Autentik pada pembelajaran Bahasa Indonesia
Jenis-jenis penilaian autentik adalah sebagai berikut:
- Penilaian Berbasis Kinerja
Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan partisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya.
Cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
- Daftar cek (checklist). Digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau sub-indikator yang harus ada dalam sebuah peristiwa atau tindakan.
- Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records). Digunakan dengan cara guru menulis laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh masing-masing peserta didik selama melakukan tindakan. Dari laporan tersebut, guru dapat menentukan seberapa baik peserta didik memenuhi standar yang ditetapkan. Hal-hal pokok yang dapat menjadi catatan guru dalam anekdot diantaranya meliputi: nama peserta didik yang dicatat perkembangan baik kognitif, afektif, maupun keterampilannya, kegiatan atau aktivitas serta pengalaman belajar yang diikuti peserta didik beserta perilakunya, dalam hal ini termasuk ucapan yang diucapkan peserta didik selama berkegiatan.
- Skala penilaian (rating scale). Biasanya menggunakan skala numerik berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 = kurang, 1 = kurang sekali.
- Memori atau ingatan (memory approach). Digunakan oleh guru dengan cara mengamati peserta didik ketika melakukan sesuatu, tanpa membuat catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan apakah peserta didik sudah berhasil atau belum.
Penilaian kinerja memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus sebagai berikut:
- langkah-langkah kinerja harus dilakukan peserta didik untuk menunjukkan kinerja yang nyata untuk suatu atau beberapa jenis kompetensi tertentu,
- ketepatan dan kelengkapan aspek kinerja yang dinilai,
- kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan oleh peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran,
- fokus utama dari kinerja yang akan dinilai, khususnya indikator esensial yang akan diamati,
- urutan dari kemampuan atau keterampilan peserta didik yang akan diamati.
- Penilaian Berbasis Proyek
Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis dan penyajian data.
Langkah-Langkah Penilaian Proyek (Perencanaan)
Langkah awal lebih ditujukan pada upaya menyiapkan peserta didik menghadapi sebuah teknik penilaian proyek. Berikut adalah langkah awal yang dapat dilakukan guru dalam melakukan penilaian proyek.
- Menentukan jenis tugas proyek dalam setahun.
- Menyusun jadwal untuk masing-masing proyek jika terdapat lebih dari satu tugas proyek. Penyusunan jadwal dapat dilakukan bersama peserta didik. Jadwal dimaksud adalah jadwal secara umum dan belum merupakan rencana detil pelaksanaan.
- Memberikan beberapa contoh laporan proyek yang telah selesai kepada peserta didik. Hal ini berfungsi untuk memberi gambaran tentang bentuk laporan proyek yang akan mereka buat.
- Tunjukkan kriteria penilaian yang akan digunakan. Pastikan peserta didik mengetahui apa saja yang akan dinilai. Guru dapat menunjukan penilaian rubrik kepada siswa, agar siswa mengetahui dan dapat menyesuaikan apa yang harus mereka capai.
- Upayakan peserta didik melakukan latihan menilai agar dapat mengetahui laporan tugas proyek yang baik.
Tiga hal yang perlu diperhatikan Guru dalam penilaian proyek:
- Keterampilan peserta didik dalam memilih topic, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
- Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan peseta didik.
- Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
- Penilaian Portofolio
Penilaian potofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata kehidupan sehari-hari. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah berikut:
- Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio
- Guru atau Guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
- Peserta didik,baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan Guru menyusun portofolio pembelajaran.
- Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
- Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
- Jika memungkinkan, Guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
- Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
- Penilaian Tertulis
Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sedapat mungkin bersifat koprehensif sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan peserta didik.
Dalam implementasi kurikulum merdeka jika para guru telah melaksanakan penilaian autentik (authentic assessment) dengan baik diharapkan penilaian (assessment) terhadap peserta didik kualitasnya akan meningkat. Dan akhirnya kualitas pendidikan di Indonesia juga akan meningkat
Haryono dalam (Zaim, 2013) mengemukakan bahwa ada empat prinsip umum penilaian otentik, yaitu: (1) proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not apart from instruction); (2) penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems), bukan masalah dunia sekolah (school work-kind of problems); (3) penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar; dan (4) penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensori-motorik). Dengan demikian, asesmen otentik menggunakan prinsip penilaian proses, mencerminkan masalah di dunia nyata, menggunakan kriteria esensi pengalaman belajar, dan bersifat holistik.
Terkait dengan assessment autentik pada pembelajaran Bahasa, penelitian yang dilakukan oleh (Ayuni, Purba, dan Akhyaruddin, 2022) tentang penerapan asesmen autentik materi menulis anekdot kelas X SMA menjelaskan bahwa penerapan asesmen autentik pada materi menulis teks anekdot kelas X SMA dapat ditempuh melalui kegiatan; (1) Perencanaan Penerapan Asesmen Auntentik (2) Pelaksanaan Penerapan Asesmen Auntentik (3) Evaluasi Penerapan Asesmen Auntentik, serta mendeskripsikan kendalakendala yang terjadi pada saat guru menerapakan assement ini. Dalam melakukan penyusunan asesmen unjuk kerja pembelajaran daring guru berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan ketentuan kebijakan menteri pendidikan kebudayaan tentang penyederhanaan komponen Indikator RPP. Hal ini bertujuan agar guru memfokuskan kegiatan penilaian dan evaluasi terhadap peserta didik.
Salah satu penerapannya, melalui tugas autentik pada buku teks siswa yang direlevansikan dengan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasilnya analisis kebutuhan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilaksanakan melalui tugas autentik pada buku teks siswa. Hal ini ditunjukkan dengan (1) mampu mendeskripsikan penggunaan asesmen autentik pada buku teks siswa berdasarkan analisis kebutuhan pembelajaran bahasa Indonesia, (2) dapat mengklasifikasikan jenis-jenis asesmen autentik pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan keterampilan berbahasa, (3) dapat mengklasifikasikan jenis asesmen autentik pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan tiga ranah asesmen, dan (4) mampu menjelaskan relevansi asesmen autentik pada buku teks siswa kebutuhan pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan KTSP 2006 dan Kurikulum merdeka.
Berikut adalah contoh instrumen penilaian atau asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik, yaitu:
Tabel 1 Contoh Instrumen Penilaian (Asesmen)
Rubrik |
Pedoman yang dibuat untuk menilai dan mengevaluasi kualitas capaian kinerja peserta didik sehingga pendidik dapat menyediakan bantuan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Rubrik juga dapat digunakan oleh pendidik untuk memusatkan perhatian pada kompetensi yang harus dikuasai. Capaian kinerja dituangkan dalam bentuk kriteria atau dimensi yang akan dinilai yang dibuat secara bertingkat dari kurang sampai terbaik. |
Ceklis |
Daftar informasi, data, ciri-ciri, karakteristik, atau elemen yang dituju. |
Catatan Anekdotal |
Catatan singkat hasil observasi yang difokuskan pada performa dan perilaku yang menonjol, disertai latar belakang kejadian dan hasil analisis atas observasi yang dilakukan. |
Grafik Perkembangan |
Grafik atau infografik yang menggambarkan tahap perkembangan belajar. |
Sumber: Panduan asesmen dan pembelajaran Kemendikbudristek, 2022.
Instrumen asesmen dapat dikembangkan berdasarkan teknik penilaian yang digunakan oleh pendidik. Di bawah ini diuraikan contoh teknik asesmen yang dapat diadaptasi, yaitu :
Tabel 2 Asesmen yang dapat dikembangkan
Observasi |
Penilaian peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala. Observasi dapat difokuskan untuk semua peserta didik atau per individu. Observasi dapat dilakukan dalamtugas atau aktivitas rutin/harian. |
Kinerja |
Penilaian yang menuntut peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja dapat berupa praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, atau membuat portofolio. |
Projek |
Kegiatan penilaian terhadap suatu tugas meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. |
Tes Tertulis |
Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta didik. Tes tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk-bentuk tes tertulis lainnya. |
Tes Lisan |
Pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran. |
Penugasan |
Pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan pengetahuan. |
Portofolio |
Kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya peserta didik dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan (reflektif-integratif) dalam kurun waktu tertentu. |
Sumber: Panduan asesmen dan pembelajaran Kemendikbudristek, 2022.
PENUTUP
Authentic Assessment adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata” secara bermakna yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian otentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas.
Penilaian autentik juga disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian autentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Intinya, sebuah asesmen dikatakan otentik jika melibatkan siswa dalam permasalahan kehidupan nyata. Tugas yang otentik memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan dapat menghubungkan antara materi yang diajarkan di sekolah dengan kehidupan yang mereka alami. Hal yang paling menonjol dari authentic assessment adalah fokus dari penilaian yang tidak hanya sekedar untuk menguji pengetahuan yang sudah didapat, tetapi proses penilaian menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Penilaian yang dapat digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah penilaian berbasis kinerja, berbasis proyek, berbasis portofolio dan berbasis penilaiaan tertulis
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S., & Sari, D. I. (2021). Efektifitas Penggunaan Platform Google Meet Terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal MathEdu (Mathematic Education Journal), 4, 45–49.
Aji, Bastaman Sasmito. 2016. Pengembangan Instrumen Penilaian Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) Kelas VII Semester Gasal. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan. (Vol. 1)(No. 7).
Ayuni, F., Purba, A., & Akhyaruddin, A. (2022). Penerapan asesmen autentik materi menulis teks anekdot kelas x SMA. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 8(1), 417- 428.
Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 21(1), 33-54.
Farida, Ida. (2017). Evaluasi pembelajaran berdasarkan kurikulum nasional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. “Kebijakan Pemerintah Terkait Kurikulum Pemerintah.” Merdeka Mengajar, Desember 2022. https://pusatinformasi.guru.kemdikbud.go.id
Kunadar, K. (2013). penilaian Autentik (penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdsarkan Kurikulum 2013. Jakarta, Rajawali Pers.
Permendikbud (2013). Peraturan menteri pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 tahun 2013 Tentang Standar Penilaian Pendidikan.
Sup’at. (2017). Pengembangan Sistem Evaluasi Pendidikan Agama Islam . Kudus:IAIN Kudus.
Suparman, Ujang. 2016. Penilaian dalam Belajar Bahasa. Suluh Media: Yogyakarta.
Umami, Muzlikhatun. 2018. Penilaian Autentik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Kurikulum 2013. Jurnal Kependidikan. (Vol. 6)(No. 2).